Monolog dalam pengertiannya yang awal berarti berbicara sendiri, lawannya ialah dialog (dua orang tokoh atau lebih saling berbicara). Lebih lanjut lagi Gray menambahkan bahwa puisi lirik, atau berdoa kepada Tuhan dipandang sebagai variasi monolog (Gray, 1986:129). Drama monolog dalam tokoh tunggal tidak banyak terdapat. Biasaya ditulis untuk latihan perwatakan, seperti terlihat pada karya Arifin C Noer, Kasir Kita. Sebenarnya monolog adalah kata hati yang diformulasikan dalam bentuk cakapan. Kata hati ini di dalam drama sesungguhnya ada tiga macam, di samping monolog, terdapat juga soliloque, dan aside. Dalam kedudukan ini monolog ialah cakapan yang berupa perenungan terhadap peristiwa yang telah terjadi. Soliloqui, mengungkapkan hal-hal yang sedang dipikiran tokoh untuk dilaksanakan. Aside, lontaran pikiran berupa komentar atau kritikan terhadap adegan yang sedang berlangsung. (sahid,86)
Monolog dialog sesungguhnya merupakan penjelmaan gaya stream of consciousnees, arus kesadaran, atau yang disebut juga cakapan batin, le monologue interieur. Cakaon batin tersebut di sini dikembangkan ke dalam bentuk dialog sehingga peragaannya di atas pentas menjadi lebih menarik. Dikatakan oleh Mukarovsky bahawa adaptasi monolog ke dalam bentuk dialog ini secara dramaturgi sesungguhnya tidak menciptakan sifat dialogik, melainkan tampil begitu saja. Bentuk ini biasanya muncul dalam puisi-puisi epik yang berfungsi sebagai faktor pembangun efek estetik. Sesungguhnya monolog yang disembunyikan kedalam bentuk dialog ini semata-mata untuk mengekploitasi suasana puitis daripada percakapan biasa yang membedakan peran. Hal yang demikian di sini sangat lemah kedudukannya (rendra,1976:61 dalam sahid,87-88)
Minggu, 19 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)